Selasa, 15 Desember 2009

ONTOLOGI DIRI

AKU….. SIAPA AKU?

Ini adalah awal pertanyaanku untuk mengetahui diriku yang sebenar-benarnya dan senyata-nyatanya….Bagaimana penampakanku dan bagaimana pula kenyataan tentang aku… Thales, Plato, dan Aristoteles bantulah aku melihatnya secara kritis… Kemudian aku berkaca, dan aku melihat refleksi diriku yang naturalis. Aku sentuh tubuhku, dan terasa sungguh realis. Lalu secara empiris, tentu tubuhku adalah bagian dari diriku…

Tetap aku masih belum yakin dengan senyata-nyatanya….

Ketika ku sentuh tanganku… ini hanya bagian dari diriku…. Ketika aku merasa dengan hatiku dan berpikir dengan otakku, itu juga bukan diriku seutuhnya… Apalagi ketika kupandangi ID-cardku, itu bukanlah diriku yang senyat-nyatanya…

Kemudian aku merenung,menelaah lebih lanjut ontologi diriku ini. Aku melihat diriku dari dua sudut pandang, baik secara kualitatif (apakah diriku memiliki kualitas tertentu?), maupun secara kuantitatif (apakah kebenaran itu tunggal ataukah jamak?). Aku berusaha mendapatkan referensi, yang kudapat aku harus menelisik lebih dalam tentang diriku dengan merujuk: yang-ada (being), kenyataan/realitas (reality), eksistensi (existence), esensi (essence), substansi (substance), perubahan (change), tunggal (one), dan jamak (many).

Aku melihat diriku sebagai bentuk-bentuk informasi, dan bukannya materi atau energi, yang lebih merupakan batu penyusun dasar dari seluruh kenyataan.

Namun yang lebih penting adalah bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).

Maka sampailah aku pada suatu simpulan bahwa diriku bukanlah semata-mata berupa partisi. Diriku adalah suatu rangkaian yang holistik, unik dan bermartabat. AKU ADALAH AKU DENGAN SEGALA KEKURANGAN DAN KELEBIHANKU DALAM RUANG DAN WAKTUKU.

BERSATUNYA AWAL DAN AKHIR

Seorang bayi dilahirkan pada suatu pagi…….

Bayi: ooeeeee’……oeeeeee’…… (“Wah di luar sini dingin…. Tidak senyaman dalam rahim Ibu seperti waktu sebelumnya….. Apa ini berarti aku memulai awal hidupku di dunia ya? Ini awal atau akhir? Awal aku memulai hidupku di dunia dan sekaligus akhir keberadaanku di rahim Ibu… Tapi benar tidak ya?..... Hmmmm…. Bukankah pertanyaanku merupakan awal dari pengetahuanku….. Jadi aku akan memperkaya pengetahuanku tentang dunia ini mulai hari ini”)

Bayi tumbuh menjadi anak kecil yang sehat dan cerdas……

Bayi: uuuuuuhh…. uuuuuhhh (“Mengapa aku harus belajar berjalan? Bukankah digendong lebih nyaman? Aaaaahhh…. Ini awal kemandirianku….sekaligus akhir dari comfort zone-ku…. Tapi kaki-kakiku memang tambah kokoh…. Nampaknya sudah sesuai dengan ruang dan waktuku….. Aku harus bisa berjalan sendiri…”)

Bayi ini kemudian berkembang menjadi anak usia sekolah….

Bayi yang sudah menjadi anak-anak: Mama…Adik sekolah…. (“Asiiiiiik….. Aku mulai sekolah…. Tempat yang menyenangkan…. Awal memperkaya kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorikku…. Sekaligus akhir dari sifat manja dan berlindung di balik kekuatan orang tua…. Apa yang dimaksud dengan belajar? Bagaimana metodeku belajar? Dan apa manfaat dari belajar?.... Akan lebih baik aku menerima pelajaranku dalam keadaan nol…. Aku harus siap maju dan siap mundur…”)

Bayi yang sudah menjadi anak-anak bertambah dewasa….

Bayi yang sudah bertambah dewasa: Apa ini…Apa itu? Mengapa begini… Mengapa begitu? (“Dunia ternyata tidak selebar daun kelor…. Ini adalah awal dari sikap kritisku…. Sekaligus akhir dari sifat kekanakanku… Banyak hal yang membingungkan…. Mana yang benar…Mana yang salah ya? Hmmmm, bukankah setinggi-tingginya kebenaran, bisa juga salah….karena prinsipnya hanya ada dua, yaitu benar dan salah… Ketika bimbang, akan kukembalikan pada Yang Kuasa…. Karena kebenaran yang absolut ada pada-Nya”)

Bayi yang sudah dewasa menjadii tua….

Bayi yang sudah beranjak tua: Sabeja-bejaning uwong yaiku uwong kang tansah eling lan waspada/ Orang yang beruntung adalah orang yang selalu ingat dan berhati-hati… (“Aku sudah makan asam garam kehidupan ini…. Ini adalah awal kebijaksanaanku, sekaligus akhir dari emosiku belaka… Hatiku adalah pengendaliku dan keyakinanku…. Sejauh-jauhnya pikirku ada pengendalinya yaitu hatiku yang sebenar-benarnya… Kuserahkan segalanya pada Tuhan karena tidak ada kontradiksi di tangan Tuhan”)

Bayi yang sudah menjadi tua menemui ajalnya….

Bayi yang sudah beranjak renta dan menemui ajalnya: Terima kasih Tuhan…. (“Aku telah menjadi saksi…. Kini sudah saatku bertemu dengan akhir sesuai dengan ruang dan waktuku….Awalku menjadi benih dalam rahim Ibuku kini akan berakhir dan kembali pada rahim Ibu Pertiwiku.”)