Senin, 18 Januari 2010
KESALAHAN TERTINGGI
Filsafat adalah olah pikir. Walaupun manusia merasa hanya memiliki pikiran yang terbatas namun mau tetap berusaha, dia sudah dikatakan berfilsafat. Batas pikiran manusia adalah ILMU. Manusia dituntut untuk berpikir kritis, sebab nilai yang tertinggi dalam berfilsafat adalah ketika manusia mampu BERPIKIR KRITIS. Maka jika manusia ingin mengetahui tentang dunia, maka manusia harus menengok pada akal dan pikirannya.
Manfaat mempelajari filsafat adalah sekadar ingin menjadi saksi. Setinggi-tinggi berfilsafat, intinya adalah ingin menjadi SAKSI. Hal ini sepertinya sederhana namun ini adalah tugas yang berat.
Setinggi-tinggi kebenaran, hanya ada dua prinsip, yaitu BENAR dan SALAH.
Sejauh-jauh pikir manusia harus ada pengendalinya, yaitu HATI. Hati manusia adalah dunia manusia. Dunia manusia adalah hati manusia. Hati manusia adalah keyakinan manusia. Setinggi-tinggi ilmu filsafat, jangan sampai melampaui ranah HATI. Jika manusia mulai bimbang, manusia hendaknya tidak melanjutkan pikiran tersebut namun segera BERTOBAT.
Sokrates menyimpulkan bahwa dirinya tidak mengerti satu hal pun. Manusia dikatakan ADA karena mampu bertanya. Maka, manusia hendaknya selalu bertanya untuk mendapatkan apa yang meresahkan pikirnya. Selain itu untuk menyatakan bahwa manusia tersebut masih ada di dunia ini.
Oleh karena itu, kesalahan tertinggi manusia adalah, sehingga tidak memiliki kesadaran yang tinggi, tidak mau berpikir kritis, tidak mau menengok akal dan pikirannya, serta tidak mau bertanya. Atau dengan kata lain, manusia yang memiliki kesalahan tertinggi adalah manusia yang MERASA SUDAH MENGGETAHUI SEGALA-GALANYA.
BAHASA SEHAT VS BAHASA SAKIT
Bahasa yang paling sering digunakan manusia untuk menyampaikan pesan atau berkomunikasi adalah bahasa alami. Bahasa alami adalah bahasa sehari-hari yang biasa digunakan untuk menyatakan sesuatu, yang tumbuh atas dasar pengaruh alam sekelilingnya. Bahasa alami dapat berupa bahasa isyarat (dengan menggunakan bahasa tubuh) dan bahasa biasa (menggunakan “kata” sebagai pengandung arti/makna).
Ada pula bahasa buatan. Ini adalah bahasa yang disusun sedemikian rupa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan akal pikiran untuk maksud-maksud tertentu. Bahasa buatan dapat berupa bahasa istilah (rumusannya diambil dari bahasa biasa yang diberi arti tertentu) dan bahasa artifisial (bahasa simbol yang sering digunakan dalam sains). Munculnya bahasa prokem, plesetan, bahasa gaul adalah merupakan bagian dari bahasa buatan.
Kata-kata dalam bahasa dapat memiliki arti yang berbeda-beda, dan setiap kata dalam sebuah kalimat memiliki arti yang sesuai dengan kalimat yang bersangkutan. Ketidaksamaan dalam menentukan arti kata dapat mengakibatkan kesesatan dalam penalaran. Manusia hendaknya dapat memahami arti kata dengan benar agar dapat memahami arti alam semesta. Bila manusia gagal menemukan pendekatan ini melalui medium bahasa maka manusia gagal dalam menemukan pintu gerbang filsafat karena bahasa digunakan untuk mengungkapkan logika dalam melakukan analisis konsep-konsep filsafat.
Dalam buku The Way of Language karya Heidegger, Foucalut dan Gadamer melihat bahasa tidak dapat dipisahkan dengan dimensi epistemologis. Mereka sampai pada keputusan bahwa asumsi-asumsi kita yang terdasar, misalnya tentang hakikat pengetahuan, tentang hubungan antara bahasa dan dunia tentang akal sehat dan kegilaan selalu merupakan suatu lapisan yang secara struktural tak terlihat pada masa itu sendiri tidak dapat kita eksplisitkan. Gadamer menyebutnya sebagai “praduga”, Foucault menyebutnya episteme (struktur kognitif fundamental). Heidegger secara etimologis mengatakan bahwa bahasa bukan hanya sekedar ‘sarana’ komunikasi melainkan sebakai ‘saksi’ yang justru memperlihatkan bahwa kita tinggal di dalamnya. Masih menurut Heidegger, segala hal yang dibicarakan sebenarnya dalam berbagai cara berasal dari yang tidak dibicarakan, baik sesuatu yang belum dibicarakan maupun sesuatu yang memang tak akan pernah dibicarakan dalam arti sesuatu di luar jangkauan pembicaraan.
Menurut Brown, proses pemerolehan bahasa seseorang itu merupakan suatu kebiasaan yang dapat diperoleh melalui proses pengkondisian. Bila manusia terkondisi dalam ruang dan waktu bahasa sehat, maka dia akan cenderung berbahasa sehat. Sedangkan manusia yang ter-ekspose bahasa sakit, maka dia akan terpengaruh untuk memiliki kebiasaan berbahasa sakit.
Lalu, mana yang bahasa sehat dan mana yang bahasa sakit? Apakah bahasa biasa adalah yang sehat dan bahasa prokem yang sakit? Manusia dapat menggunakan panca inderanya untuk menentukan mana yang sehat dan mana yang sakit. Pada dasarnya semua bahasa dibentuk untuk tujuannya masing-masing dengan tujuan utama menyampaikan pesan dan berkomunikasi dengan manusia lain.
Selasa, 15 Desember 2009
ONTOLOGI DIRI
AKU….. SIAPA AKU?
Ini adalah awal pertanyaanku untuk mengetahui diriku yang sebenar-benarnya dan senyata-nyatanya….Bagaimana penampakanku dan bagaimana pula kenyataan tentang aku… Thales, Plato, dan Aristoteles bantulah aku melihatnya secara kritis… Kemudian aku berkaca, dan aku melihat refleksi diriku yang naturalis. Aku sentuh tubuhku, dan terasa sungguh realis. Lalu secara empiris, tentu tubuhku adalah bagian dari diriku…
Tetap aku masih belum yakin dengan senyata-nyatanya….
Ketika ku sentuh tanganku… ini hanya bagian dari diriku…. Ketika aku merasa dengan hatiku dan berpikir dengan otakku, itu juga bukan diriku seutuhnya… Apalagi ketika kupandangi ID-cardku, itu bukanlah diriku yang senyat-nyatanya…
Kemudian aku merenung,menelaah lebih lanjut ontologi diriku ini. Aku melihat diriku dari dua sudut pandang, baik secara kualitatif (apakah diriku memiliki kualitas tertentu?), maupun secara kuantitatif (apakah kebenaran itu tunggal ataukah jamak?). Aku berusaha mendapatkan referensi, yang kudapat aku harus menelisik lebih dalam tentang diriku dengan merujuk: yang-ada (being), kenyataan/realitas (reality), eksistensi (existence), esensi (essence), substansi (substance), perubahan (change), tunggal (one), dan jamak (many).
Aku melihat diriku sebagai bentuk-bentuk informasi, dan bukannya materi atau energi, yang lebih merupakan batu penyusun dasar dari seluruh kenyataan.
Namun yang lebih penting adalah bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).
Maka sampailah aku pada suatu simpulan bahwa diriku bukanlah semata-mata berupa partisi. Diriku adalah suatu rangkaian yang holistik, unik dan bermartabat. AKU ADALAH AKU DENGAN SEGALA KEKURANGAN DAN KELEBIHANKU DALAM RUANG DAN WAKTUKU.
BERSATUNYA AWAL DAN AKHIR
Seorang bayi dilahirkan pada suatu pagi…….
Bayi: ooeeeee’……oeeeeee’…… (“Wah di luar sini dingin…. Tidak senyaman dalam rahim Ibu seperti waktu sebelumnya….. Apa ini berarti aku memulai awal hidupku di dunia ya? Ini awal atau akhir? Awal aku memulai hidupku di dunia dan sekaligus akhir keberadaanku di rahim Ibu… Tapi benar tidak ya?..... Hmmmm…. Bukankah pertanyaanku merupakan awal dari pengetahuanku….. Jadi aku akan memperkaya pengetahuanku tentang dunia ini mulai hari ini”)
Bayi tumbuh menjadi anak kecil yang sehat dan cerdas……
Bayi: uuuuuuhh…. uuuuuhhh (“Mengapa aku harus belajar berjalan? Bukankah digendong lebih nyaman? Aaaaahhh…. Ini awal kemandirianku….sekaligus akhir dari comfort zone-ku…. Tapi kaki-kakiku memang tambah kokoh…. Nampaknya sudah sesuai dengan ruang dan waktuku….. Aku harus bisa berjalan sendiri…”)
Bayi ini kemudian berkembang menjadi anak usia sekolah….
Bayi yang sudah menjadi anak-anak: Mama…Adik sekolah…. (“Asiiiiiik….. Aku mulai sekolah…. Tempat yang menyenangkan…. Awal memperkaya kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorikku…. Sekaligus akhir dari sifat manja dan berlindung di balik kekuatan orang tua…. Apa yang dimaksud dengan belajar? Bagaimana metodeku belajar? Dan apa manfaat dari belajar?.... Akan lebih baik aku menerima pelajaranku dalam keadaan nol…. Aku harus siap maju dan siap mundur…”)
Bayi yang sudah menjadi anak-anak bertambah dewasa….
Bayi yang sudah bertambah dewasa: Apa ini…Apa itu? Mengapa begini… Mengapa begitu? (“Dunia ternyata tidak selebar daun kelor…. Ini adalah awal dari sikap kritisku…. Sekaligus akhir dari sifat kekanakanku… Banyak hal yang membingungkan…. Mana yang benar…Mana yang salah ya? Hmmmm, bukankah setinggi-tingginya kebenaran, bisa juga salah….karena prinsipnya hanya ada dua, yaitu benar dan salah… Ketika bimbang, akan kukembalikan pada Yang Kuasa…. Karena kebenaran yang absolut ada pada-Nya”)
Bayi yang sudah dewasa menjadii tua….
Bayi yang sudah beranjak tua: Sabeja-bejaning uwong yaiku uwong kang tansah eling lan waspada/ Orang yang beruntung adalah orang yang selalu ingat dan berhati-hati… (“Aku sudah makan asam garam kehidupan ini…. Ini adalah awal kebijaksanaanku, sekaligus akhir dari emosiku belaka… Hatiku adalah pengendaliku dan keyakinanku…. Sejauh-jauhnya pikirku ada pengendalinya yaitu hatiku yang sebenar-benarnya… Kuserahkan segalanya pada Tuhan karena tidak ada kontradiksi di tangan Tuhan”)
Bayi yang sudah menjadi tua menemui ajalnya….
Bayi yang sudah beranjak renta dan menemui ajalnya: Terima kasih Tuhan…. (“Aku telah menjadi saksi…. Kini sudah saatku bertemu dengan akhir sesuai dengan ruang dan waktuku….Awalku menjadi benih dalam rahim Ibuku kini akan berakhir dan kembali pada rahim Ibu Pertiwiku.”)
